Jumat, 08 Juli 2016

Neophobia: Ketakutan Terhadap Pembaruan

Ilustrasi - Sumber
Ada berbagai ketakutan (phobia) manusia abad ini. Seiring berjalannya waktu, ketakutan tersebut menjadi semakin bervariasi. Salah satunya yang banyak ditemui belakangan adalah Neophobia yang berupa ketakutan akan kehilangan kenikmatan yang sudah dimiliki. Neophobia memiliki arti takut terhadap pembaruan atau takut menghadapi hal-hal baru. Dengan semakin banyaknya pembaruan, walaupun bersifat positif, ketakutan tersebut cenderung akan semakin menyebar. Seseorang yang sudah neophobia cenderung akan menganggap berbagai pembaruan yang ada itu tidak baik, tidak cocok, tidak patut diikuti, dan sebagainya. Banyak orang yang sudah mengangkat dan membahas persoalan ini, khususnya dalam bidang politik. Akan tetapi, dalam postingan ini saya mencoba untuk mengaitkan persoalan ini ke dalam lingkup permasalahan yang lebih sederhana. Dalam kegiatan sehari-hari kita juga tentunya sudah mulai ditemukan ketakutan-ketakutan akan adanya berbagai pembaruan.

Contoh sederhana, seorang mahasiswa yang kuliah bukan di tempat asalnya, tentunya dia harus mencari tempat tinggal. Pada kasus pemilihan tempat tinggal ini saja akan ada banyak keluhan-keluhan tentang pilihan-pilihannya. Ada yang takut untuk tinggal di kos X karena tidak ada yang menjaga seperti di rumah. Ada yang takut susah makan. Ada yang takut sendirian. Ada yang takut dengan ketatnya aturan di kos atau asrama. Ketakutan-ketakutan tersebut muncul sebagai bentuk penolakan terhadap pembaruan, dimana si mahasiswa tersebut mungkin sudah terbiasa tinggal di rumah yang nyaman, serba ada, dan sebagainya. Ketika dia harus masuk ke dunia baru, dia mengeluh, merasa tidak bisa, merasa takut.

Contoh lain, misalnya seorang mahasiswa yang sedang mengerjakan tugas akhirnya (skripsi atau tesis). Mahasiswa ini kebetulan dibimbing oleh seorang dosen yang dianggapnya baik, ramah, dekat dengan mahasiswanya. Tapi tiba-tiba dosen tersebut berhalangan dalam waktu yang cukup lama sehingga mahasiswa ini harus mengganti dosen pembimbing. Pada kasus ini misalnya si mahasiswa menjadi takut untuk memilih dosen lain untuk menjadi dosen pembimbingnya. Dia takut karena mungkin dosen pembimbing yang baru tidak sebaik dan seramah dosen pembimbingnya dulu. Ketakutan ini muncul karena dia sudah merasa nyaman dengan dosen pembimbing yang lama sehingga ketika diberikan dosen pembimbing baru, dia takut. Misalnya dalam kasus ini si mahasiswa bisa lebih memilih cuti dulu sampai dosen pembimbing yang lama kembali untuk membimbingnya. Padahal bisa jadi dosen pembimbing yang baru tersebut lebih baik, lebih ramah, lebih bisa mengerti mahasiswanya. Akan tetapi, karena sudah dihantui berbagai ketakutan maka dalam prosesnya mahasiswa ini tetap akan menganggap bahwa dosen pembimbing yang baru ini tidak lebih baik.

Contoh lainnya lagi, seorang mantan mahasiswa yang akan masuk ke dunia kerja. Masuk ke dunia kerja pada umumnya berarti masuk ke dunia yang lebih keras, dunia yang akan mengajarkan arti hidup yang sebenarnya. Pada kasus ini misalnya dia sudah serba ketakutan, mulai dari takut akan bekerja terus, takut pekerjaannya susah, takut harus pergi jauh, takut diperintah atasan, dan sebagainya. Ketakutan-ketakutan tersebut sudah ditandai dengan kebingungannya memilih tempat kerja. Sebenarnya ada baiknya kita teliti dalam memilih pekerjaan yang cocok, pekerjaan yang nyaman, pekerjaan yang sesuai dengan kemampuan kita. Akan tetapi, hal yang harus menjadi perhatian adalah bagaimana proses kita memilih itu tidak menjadi berlebihan, tidak menjadi serba ketakutan, tidak melihat alasan-alasan dari sisi negatifnya saja.

Saya bukan seorang peneliti tentang neophobia tapi saya hanya sekedar membagikan pikiran-pikiran saya. Dalam keseharian, ada baiknya kita tidak hanya bisa menuntut tentang suatu pembaruan, tapi lebih baik kita mulai membuat dan masuk ke dalam pembaruan-pembaruan itu. Lalu, dapatkah kita mulai menilai tentang baik atau tidaknya neophobia ini ? Tentunya berbagai hal tidak luput dari nilai positif dan negatif. Ketakutan akan pembaruan tersebut tentunya juga ada nilai positif dan negatifnya. Kita hanya perlu bersikap selektif, ambil sisi positifnya dan hindari sisi negatifnya. Mungkin untuk beberapa kasus, saya juga neophobia, tapi setidaknya saya berusaha untuk menghindarinya ketakutan tersebut.

Referensi:
- Rhenald Kasali - Neophobia
- Wikipedia - Neophobia

1 komentar:

  1. Wonderful post however I was wondering if you could write a litte more on this topic? I'd be very grateful if you could elaborate a little bit further. Kudos! gmail login email

    BalasHapus