Jumat, 29 Juli 2016

Bersikap Anti-Rasis

Ilustrasi - Sumber
Rasisme banyak ditemukan di berbagai tempat. Di Indonesia saja, hal-hal berbau rasisme sering kita temukan baik secara langsung maupun melalui isu-isu yang berkembang cepat. Banyak hal negatif yang muncul sebagai akibat dari diangkatnya isu-isu rasisme ini. Walaupun penolakan-penolakan terhadap rasisme ini sudah mulai banyak terdengar, tetapi perkembangannya yang begitu cepat seakan susah untuk dibendung. Melalui postingan kali ini, Kapasca mencoba memaparkan lebih jelas, bagaimana rasisme itu ada dan kenapa kita harus menghilangkannya. Jika Anda tidak mampu membatasi diri dan tidak dapat memposisikan diri pada posisi netral, maka segeralah untuk menutup halaman ini demi kenyamanan bersama. Tulisan ini tidak bermaksud menyinggung ataupun menyerang pihak mana pun. Sebelum membahas tentang bagaimana sebaiknya bersikap anti-rasis, baiknya kita mengetahui terlebih dahulu tentang rasisme itu sendiri.

Dikutip dari Wikipedia, rasisme adalah suatu sistem kepercayaan atau doktrin yang menyatakan bahwa perbedaan biologis yang melekat pada ras manusia menentukan pencapaian budaya atau individu. Selebihnya dapat dijelaskan bahwa rasisme itu berupa pembedaan sikap dan perlakuan terhadap suatu kelompok tertentu karena adanya perbedaan-perbedaan. Berbagai tema tentang rasisme yang sering muncul misalnya suku, warna kulit, agama, ekonomi, dan sebagainya. Bagi kita orang Indonesia, konsep "Bhinneka Tunggal Ika" yang berarti "berbeda-beda tetapi tetap satu" tentu sudah tidak asing. Konsep ini bahkan sudah ditanamkan sejak kecil. Akan tetapi, apakah konsep ini telah kita amalkan dengan benar? 

Rasisme dapat muncul dalam berbagai bentuk, misalnya lelucon atau komentar yang menyakitkan, ejekan atau penghinaan verbal, pelecehan atau intimidasi, atau komentar di media atau secara daring (online) yang meningkatkan ketidaksukaan terhadap kelompok tertentu. Dalam keadaan yang parah, rasisme dapat mengakibatkan tindakan kekerasan dan pelecehan fisik. Rasisme dapat menghalangi orang untuk mengakses layanan atau berpartisipasi dalam pekerjaan, pendidikan, olah raga dan kegiatan sosial. Rasisme juga bisa muncul ditingkat institusi melalui kebijakan atau praktik yang merugikan kelompok tertentu. Rasisme akan mengakibatkan ketidak adilan akses ke peluang, sumber daya atau kekuasaan bagi orang yang berasal dari ras berbeda. Kepercayaan bahwa ada ras tertentu yang lebih rendah atau tinggi terhadap yang lainnya terkadang digunakan untuk membenarkan ketidak adilan ini.

Ilustrasi - Sumber
Contohnya, Yogyakarta, kota pendidikan, menjadi tujuan dari banyak orang di Indonesia untuk bersekolah atau melanjutkan studinya. Keberagaman di Indonesia dapat kita temui juga di Yogyakarta, khususnya kampus-kampus di Yogyakarta. Hal yang selalu terjadi adalah pengkotakan orang (Indonesia) barat dengan orang (Indonesia) timur. 'Orang-orang timur' yang ingin bersekolah di Jogja (atau Jawa pada umumnya), biasanya mendapatkan perlakuan yang berbeda. 'Orang timur' yang merantau, kerap dikenal sebagai 'si pembuat onar', 'si tukang gaduh', 'si pelanggar aturan', 'si orang kasar', dan sebagainya. Padahal sebenarnya jika diselidiki lebih mendalam, hanya sedikit atau sebagian kecil 'orang timur' yang sebenarnya patut dicap jelek. Perbandingannya bisa saja sama dengan jumlah 'orang barat' yang patut dicap jelek dengan 'orang barat' yang baik. Jadi sebenarnya sama saja, artinya sama-sama ada orang yang berbuat jelek dan masih banyak orang yang berbuat baik. Akan tetapi justru karena dibumbui dengan rasisme, permasalahan ini menjadi bertambah berat bahkan menjadi sangat panjang. 

Contoh lainnya, tentang agama, yang arti sebenarnya berhubungan erat dengan kepercayaan. Jika demikian, seharusnya agama bergantung kepada siapa orang yang mempercayainya, atau siapa orang yang mau menganut agama atau kepercayaan tertentu. Akan tetapi, kenapa ini menjadi suatu permasalahan yang sangat besar? Tentu sebenarnya konteks keagamaan yang diterima seseorang itu berbeda-beda. Karena berkaitan dengan kepercayaan, dan adanya perbedaan kepercayaan, hal yang berkaitan dengan agama seharusnya tidak bersifat membuktikan siapa yang paling benar, atau dengan menyalahkan kepercayaan lain. Apabila seseorang menyalahkan kepercayaan lain, hal tersebut berarti ia akan memaksa seseorang untuk tidak mempercayai kepercayaannya, bahkan akan memaksa seseorang untuk mempercayai kepercayaan yang bukan kepercayaannya. 

Contoh lain yang sering terjadi sehari-hari, misalnya tentang olok-olokan, ejek-ejekan, atau bisa juga kritik-kritikan yang dihubungkan dengan warna kulit (misalnya ungkapan 'si hitam' yang menunjuk ke orang Afrika, atau orang Papua), atau dihubungkan dengan suku (misalnya ungkapan 'si cina' yang menunjuk ke orang-orang etnis Tionghoa, bermata sipit). Kalau dipikirkan, apa untungnya kita menyebut atau mengatai orang dengan sebutan seperti di atas? Sebenarnya tidak ada untungnya. Dengan berbuat demikian, hal yang akan timbul justru hal-hal negatif; akan dianggap mencela, menghina, mengejek, dan sebagainya. 

Dilihat dari beberapa contoh di atas, sikap rasisme hanya menimbulkan dampak negatif. Lalu apa yang masih perlu dipertahankan dengan sikap ini? Tidak ada. Tentu jika hal negatif mendapat porsi lebih banyak, rasisme harus ditolak, dihindari, bahkan sedapat mungkin dihapuskan dari kegiatan-kegiatan kita setiap hari. Bagaimana kita memulai untuk menghilangkan hal-hal berbau rasisme? Caranya adalah dengan menghindarinya, menjauhlah jika Anda sedang merasa dekat dengan rasisme. Berusahalah untuk tidak mudah terpancing dengan berbagai isu-isu yang beredar. Sekali lagi, tulisan ini tidak bermaksud menyinggung ataupun menyerang pihak mana pun. Jika terdapat kesalahan atau kekeliruan, mari kita bahas bersama.

Biasakan hidup positif dengan memandang segala sesuatu dari sisi positifnya. 

Referensi:
- Wikipedia - Rasisme
- Kompasiana (C. Riberu) - Rasis, Itu Sudah Biasa!
- Kompasiana (Joko Lodang) - Jogjakarta yang Tak Lagi Nyaman
- Kompasiana (Arif Yunando) - Agama, Sifat Rasis, dan Kekristenan
- Budi Sang Basiyo (mojok.co) - Benarkah Masyarakat Yogya Rasialis?

1 komentar:

  1. I know this if off topic but I'm looking into starting my own blog and was curious what all is required to get set up? I'm assuming having a blog like yours would cost a pretty penny? I'm not very internet smart so I'm not 100% positive. Any tips or advice would be greatly appreciated. Cheers hotmail sign in email

    BalasHapus